Analisis Pengukuran Ruang dalam Perawatan orthodonti

shape image

Analisis Pengukuran Ruang dalam Perawatan orthodonti

 

  • Analisa perhitungan ruang dalam perawatan ortodonti→ salah satu sumber informasi penting untuk menentukan diagnosis ortodonti

  • Diagnosis yang tepat→ menentukan kelengkapan rencana perawatan

  • Rencana perawatan yang lengkap dan akurat→ menentukan keberhasilan suatu perawatan

  • Istilah dalam analisa kebutuhan ruang pada perawatan ortodonti

    • Diskrepansi ruang

      ketidakseimbangan antara ruang yang dibutuhkan dengan ruang yang tersedia pada lengkung gigi pada masa gigi pergantian

    • Ruang yang dibutuhkan (required space)

      jumlah lebar mesiodistal gigi C, P1, dan P2 yang belum erupsi/ sudah erupsi, serta keempat gigi I

    • Ruang yang tersedia

      ruang di sebelah mesial M1 permanen kiri sampai mesial M1 permanen kanan yang akan ditempati oleh gigi-gigi permanen pada kedudukan yang benar dapat diukur pada model studi

  • Alat bantu

    • Model studi
    • Rontgenogram
    • Tabel perkiraan
    • Rumus
    • Alat ukur
      • sliding calipers (jangka sorong)
      • symmetograph
      • bras wire
      • jangka berujung runcing dan penggaris
  • Fase Analisa pengukuran ruang

    • Fase Geligi campuran
      • tabel probabilitas (moyers)
      • analisa tanaka-johnston
      • tabel sitepu
    • Fase geligi permanen
      • Nance
      • Lundstrom
      • Bolton
      • Howes
      • Pont
      • Diagnostic Setup

Analisa pada fase geligi campuran

  • Tujuan
    • mengevaluasi jumlah ruangan yang tersedia pada lengkung rahang yang digantikan oleh gigi permanen dan untuk penyesuai oklusi yang diperlukan
  • 3 Faktor yang perlu diperhatikan
    • ukuran seluruh gigi anterior permanen sampai gigi M1 permanen
    • perimeter rahang
    • perkiraan perubahan perimeter rahang akibat tumbuh kembang
  • Perkiraan Ukuran gigi
    • Radiografi

      • Dilakukan dengan mengukur obyek yang dapat dilihat baik secara radiografi maupun pada model

      • Molar sulung biasanya jd tolak ukur

      • Perbandingan sederhana u/ mengetahui ukuran gigi sebenarnya yang belum erupsi

        Lebar P yg belum erupsi= ukuran M-D molar sulung sebenarnya/ foto x lebar P pd Foto RO

        Untitled

      • Ketepatan pengukuran bergantung pada kualitas radiografi dan kedudukan gigi di dalam lengkung. Teknik ini juga dapat digunakan untuk gigi lain baik pada maksila maupun mandibula

        Untitled

      • Cara Mengukur tempat yang tersedia (available space)

        campuran=permanen→ Nance

      • Cara Mengukur required space

        1. Jang berujung runcing/jangka sorong
        2. Ukur lebar M-D permanen yang telah erupsi sempurna pada model studi dengan jangka sorong
        3. Ukur lebar mesiodistal gigi permanen yang belum erupsi atau erupsi sebagian dengan menggunakan rumus perbandingan seperti di atas
        4. Hitung total pengukuran lebar M-D tiap gigi permanen. P2-P2 (baik yang dihitung pada model studi maupun yang dihitung dengan rumus perbandingan), catat hasil pengukuran yang didapat sebagai required space(tempat yang dibutuhkan) untuk rahang atas dan rahang bawah
    • Tabel Probabilitas (Moyers)

      • Penelitian Moyers

        ukuran gigi i Permanen RB memiliki hubungan dengan C dan P yang belum tumbuh pada RA maupun RB

      • I RB dipilih untuk pengukuran pada analisis moyer karena

        • muncul lebih dulu pada masa geligi campuran
        • mudah diukur secara akurat
        • secara langsung sering terlibat masalah penanganan ruangan
      • recommended karena

        • kesalahan sistematik minimal
        • cepat
        • tidak perlu alat khusus atau radiografi
        • bisa oleh pemula karena tidak perlu keahlian khusus
      • dapat dilakukan untuk menganalisis keaaan pada kedua lengkung rahang

      • Cara mengukur tempat yang tersedia (available space)

        • brasswire (metode Nance)

        • segmental

          • bagi lengkung rahang menjadi 4 segmen i1-i2 kanan, segmen i1-i2 kiri, segmen distal i2-mesial m1 kanan dan segmen dital i2-mesial m1 kiri
          • hitung masing2 segment dengan kawat atau kaliper
          • jumlahkan hasil pengukuran lebar segmen i1-i2 kanan+ lebar segmen i1-i2 kiri +lebar segmen distal i2 mesial m1 kanan+ segmen distal i2 mesial M1 kiri
          • catat hasil pengukuran sebagai required space untuk RA dan RB
      • Cara mengukur tempat yang dibutuhkan (required space)

        1. Hitung lebar M-D keempat gigi 1 RB
        2. Jumlah lebar M-D keempat I rahang bawah dibandingkan dengan nilai pada tabel proporsional (tabel Moyers) untuk memprediksi lebar gigi C dan P RA dan RB yang akan erupsi pada satu kuadran
        • Required space RA

          jumlah lebar M-D keempat I RA+ (2x(nilai pada tabel prediksi))

        • Required space RB

          jumlah lebar M-D keempat I RB+ (2x(nilai pada tabel prediksi))

        Untitled

        Untitled

    • Metode Tanaka-Johnston

      • Perkiraan Lebar M-D kaninus dan premolar permanen Mandibula dalam satu kuadran

        Untitled

      • Perkiraan Lebar M-D kaninus dan premolar permanen Maksila dalam satu kuadran

        Untitled

    • Tabel Sitepu

      • tahapan spt moyer, beda TABEL

      • jika tidak ada tabel sitepu, rumusnya:

        Lebar Mesiodistal 3 4 5 (oleh SITEPU)

        • kelompok etnik Deutero-Melayu

          Y= 0,48X+ 11,71 (RA)

          Y= 0,46X + 10,91 (RB)

        • kelompok etnik Cina-Indonesia

          Y= 0,44X + 11,6 (RA)

          Y=0,44X + 10,29 (RB)

          Ket:

          Y= Lebar mesio-Distal 3 4 5

          X= Lebar Mesio- DIstal 2 1 1 2

    • Kombinasi/Gabungan (Hixon and Oldfather)

      • pertama kali dikembangkan oleh Hixon dan Oldfather (1958).

      • Kemudian Staley memodifikasi shg standart error of estimate dapat ditugunkan jadi 0,44 dan koefisien korelasinya meningkat menjadi 0,92

      • Menggabungkan teknik radiografi dan perhitungan pada model dalam memprediksi jumlah lebar mesiodistal gigi C dan P yang akan erupsi pada kedua rahang

      • Metode ini merupakan metode yang paling akurat untuk meningkatkan daya prediktibilitas

      • Cara menggunakan analisis Hixon dan Oldfather

        1. Lebar mesiodital gigi insisivus sentralis dan gigi insisivus lateralis pada satu kuadran diukur pada model studi
        2. DIlakukan pengukuran secara langsung lebar mahkota gigi premoalr pertama dan kedua yang belum erupsi pada foto radiografi
        3. Jumlahkan hasil pengukuran pada model studi dan foto radiografi
        4. Lihat pada gradik prediksi untuk menentukan gigi kaninus, P1, P2 yang belum erupsi

        Untitled

Analisa pada fase geligi permanen

  • Metode Nance

    Analisis Nance mengukur M-D setiap gigi yang berada di mesial gigi M1 permanen→ Jumlah lebar total menunjukkan ruangan yang dibutuhkan untuk lengkung gigi yang ideal

    • Selanjutnya panjang lengkung rahang diukur menggunakan kawat lunak seperti brass wire atau kawat kuningan. Kawat ini dibentuk melalui setiap gigi, pada geligi posterior melalui permukaan oklusalnya sedangkan pada geligi anterior melalui tepi insisalnya. Jarak diukur mulai mesial kontak molar pertama permanen kiri hingga kanan.

    • RA

      brass wire menyusuri fisura gigi posterior dan insisal gigi anterior dalam kedudukan yang normal

    • RB

      brass wire menyusuri cusp bukal gigi posterior dan insisal gigi anterior dalam kedudukan yang normal

    • Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan ukuran panjang lengkung gigi ideal dengan panjang lengkung rahang → Jika hasilnya negatif berarti kekurangan ruangan, jika hasilnya positif berarti terdapat kelebihan ruangan.

    • Cara mengukur tempat yang tersedia (available space ):

      • RA

        1. Sediakan kawat dari tembaga (brass wire) untuk membuat lengkungan berbentuk busur.
        2. Letakkan brasswire dimulai dari mesial M1 permanen kiri, menyusuri fisura gigi posterior yang ada didepannya, kemudian melewati insisal incisive yang letaknya benar / ideal (yang inklinasinya membentuk sudut 110 terhadap bidang maksila), kemudian menyusuri fisura gigi posterior kanan dan berakhir sampai mesial M1 permanen kanan (seperti terlihat pada gambar di bawah).
        3. Beri tanda pada brasswire menggunakan spidol sebagai tanda akhir pengukuran.
        4. Rentangkan kembali brasswire membentuk garis lurus kemudian ukur mulai ujung kawat sampai pangkal (tanda yang sudah dibuat dengan spidol).
        5. Catat hasil engukuran yang didapat sebagai available space (tempat yang tersedia) untuk rahang atas
      • RB

        Tahapan sama dengan cara mengukur tempat tersedia pada rahang atas, hanya saja brasswire diletakkan pada oklusal gigi dimulai dari mesial M1 permanen kiri, menyusuri cusp bukal gigi posterior yang ada didepannya, kemudian melewati insisal incisive yg letaknya benar / ideal (yang inklinasinya 90” / tegak lurus terhadap bidang mandibula), kemudian melewati cusp gigi potrerior kanan dan berakhir sampai mesial M1 permanen kanan.

    • Cara mengukur tempat yang dibutuhkan (required space):

      • Rahang atas dan rahang bawah :
        1. Sediakan jangka berujung runcing atau jangka sorong
        2. Ukur lebar mesiodistal masing-masing gigi (yaitu lengkung terbesar gigi) dimulai dari gigi yang, terletak di mesial M1 permanen kiri sampai gigi yang terletak di mesial M1 permanen kanan
        3. Buatlah sebuah garis lurus pada kertas.
        4. Hasil pengukuran lebar M-D tiap gigi dipindahkan pada garis yang tatah ibuat pada kertas tadi
        5. Hitunglah total pengukuran lebar M-D tiap gigi, catat hasil pengukuran yang didapat sebagai regurred space Mp yang dibutuhkan) untuk rahang atas dan rahang bawah.
    • Gambar

      Untitled

      Untitled

  • Metode Lundstrom

    " Lundstrom → membagi lengkung gigi menjadi & segmen berupa garis lurus untuk setiap dua gigi termasuk gigi molar pertama permanen → pengukuran dan pencatatan pada keenam segmen → dijumlahkan.

    • Nilai ini dibandingkan dengan ukuran M-D 12 gigi mulai molar pertama permanen kiri hingga kanan. Selisih keduanya menunjukkan keadaan ruangan yang tersisa.

    Untitled

  • Cara Segmental

    Teknik pengukuran ini caranya sama dengan metode Lundstrom, hanya pembagian segmennya yang berbeda.

    Pengukuran ini melibatkan molar pertama permanen kiri dan kanan.

    Pengukuran panjang lengkung rahang secara segmental adalah dengan membagi lengkung menjadi tiga segmen di tiap kuadran, yaitu segmen 11-12, segmen C,dan segmen P1-M1. Teknik pengukuran untuk rahang bawah sama dengan rahang atas.

    Untitled

  • Analisis Bolton

    • Bolton

      pengaruh perbedaan ukuran gigi RB terhadap ukuran gigi RA dengan keadaan oklusinya.

    • Rasio

      membantu dalam mempertimbangkan hubungan overbite dan overjet yang mungkin akan tercapai setelah perawatan selesai, pengaruh pencabutan pada oklusi posterior dan hubungan insisif, serta oklusi yang tidak tepat karena ukuran gigi yang tidak sesuai.

    • Rasio keseluruhan

      jumlah lebar 12 gigi rahang bawah/ Jumlah 12 gigi rahang atas x 100

      • kriteria
        • Rasio =91,3 :menghasilkan hubungan overbite dan overjet yang ideal.
        • Rasio >91,3 : kesalahan terletak pada gigi rahang bawah.
        • Rasio <91,3 : kesalahan terletak pada gigi rahang atas.
      • Pada tabel Bolton diperlihatkan gambaran hubungan ukuran gigi rahang atas dan rahang bawah yang ideal.
      • Pengurangan antara ukuran gigi yang sebenarnya dan yang diharapkan menunjukkan kelebihan ukuran gigi.
    • Rasio anterior

      • rumus

        Rasio anterior = jumlah lebar & gigi rahang bawah/ jumlah & gigi rahang atas x 100

      • kriteria

        • Rasio anterior =77,2 : hubungan overbite dan overjet yang ideal
        • Rasio anterior >77,2 : terdapat kelebihan ukuran gigi2 pada RB.
        • Rasio anterior <77,2 : terdapat kelebihan jumlah ukuran gigi RA
    • gambar

      Untitled

      tabel bolton digunakan untuk mengetahui ukuran ideal 6 gigi anterior dan ke 12 gigi, baik pada RA maupun RB

  • Analisis Howes

    → rumusan untuk mengetahui apakah basis apikal cukup untuk memuat gigi geligi pasien.

    • Dasar

      1. Ada hubungan lebar lengkung gigi dengan panjang perimeter lengkung gigi.
      2. Ada hubungan basal arch dengan coronal arch.
    • Indeks premolar Howes

      • Indeks Premolar

        PMP/TTM x100%

      • Premolar Diameter(PMD):

        Mengukur lebar lengkung gigi, yaitu mengukur jarak inter premolar pertama kanan dan kiri RA

        Untitled

        Titik yang terletak pada puncak Guceal cusp bagian dalam dari gigi 14 dan 24

      • Total Tooth Material (TTM):

        Mengukur lebar mesiodistal 12 gigi dari M1 ke M1

      • Panjang lengkung gigi (Tooth Materjal/ TM)

        jumlah lebar mesiodistal gigi dari M1 kiri sampai dengan M1 kanan.

      • Lebar lengkung basal premolar atau fosa kanina (Premolar Basal Arch Wwidth/ PMBAW):

        diameter basis apikal dari model gigi pada apeks gigi premolar pertama 5 diukur menggunakan jangka sorong atau jangka berujung runcing.

    • Indeks Fossa Canina

      • Indeks Fossa Canina

        PMBAW/TM x 100

      Untitled

    • Kesimpulan hasil perhitungan Indeks Howes

      • Indeks P > 43%

        lengkung gigi dapat menampung gigi geligi secara ideal dan stabil

      • Indeks FC > 44%

        lengkung basal dapat menampung gigi geligi secara ideal dan stabil

    • Interpretasi hasil perhitungan Indeks Howes

      • Interpretasi 1:

        • indeks FC ≤ 37% maka merupakan kasus indikasi pencabutan
        • indeks FC antara 37-44 maka merupakan kasus borderline (meragukan) yaitu kasus dengan indikasi ekspansi atau pencabutan
        • indeks FC ≥ 44%, maka merupakan kasus yang dapat dilakukan tanpa pencabutan
      • Interpretasi 2:

        • indeks FC > Indeks P maka merupakan kasus indikasi ekspansi. Karena inklinasi gigi-gigi posterior di regio Premolar konvergen
        • indeks FC < Indeks P maka merupakan kasus kontraindikasi ekspansi. Karena inklinasi gigi-gigi posterior di regio Premolar divergen
      • Interpretasi 3:

        Bila ekspansi akan dilakukan, maksimal hanya dapat dilakukan sampai indeks P sama dengan indeks FC (inklinasi gigi tegak) yaitu sebesar 444 x TTM sehingga dapat dilakukan berapa millimeter lagi ekspansi lengkung gigi dapat dilakukan pada periode tersebut

  • Index Pont

    • Pont memikirkan sebuah metoda untuk menentukan lebar lengkung ideal yang didasarkan pada lebar mesiodistal mahkota keempat insisif rahang atas.

    • Pont menyarankan

      • rasio gabungan insisif terhadap lebar lengkung gigi melintang yang diukur dari pusat permukaan oklusal gigi, idealnya adalah 0,8 pada fosa sentral premolar pertama dan 0,64 pada fosa sentral molar pertama.
      • lengkung rahang atas dapat diekspansi sebanyak 1-2 mm lebih besar dari idealnya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya relaps
    • Tujuan Analisis Pont:

      • Menentukan apakah lebar lengkung gigi normal atau kurang
      • Menentukan apakah dibutuhkan ekspansi ke lateral
      • Menentukan sejauh mana ekspansi dapat dilakukan pada daerah P dan M
      • Mengetahui apakah suatu lengkung mengalami kontraksi, distraksi atau normal
    • Kontraksi = kompresi = intraversion

      sebagian atau seluruh lengkung gigi lebih mendekati bidang midsagital.

    • Distraksi = ekstraversion

      sebagian atau seluruh lengkung gigi lebih menjauhi bidang midsagital.

    • Semua pengukuran indeks Pont hanya dilakukan pada lengkung gigi maksila (Gupta dkk, 1974).

    • Alasan Pont memilih keempat gigi insisivus maksila adalah

      • penyederhanaan metode predeterminasi lengkung (Stifter, 1958).
      • Indeks Pont sebesar 80 pada regio premolar dan 64 pada regio molar (Joondeph dkk., 1970).
    • Pont mengemukakan gigi yang lebar membutuhkan lengkung yang lebar untuk membentuk susunan yang normal.

    • Hubungan dirumuskan:

      • Indeks Premolar

        SIx100/ Jarak P1-P1=80

        Jarak P1-P1=SIx100/80

        • CARA PENGUKURAN
          • JARAK INTER P1. SEBENARNYA:

            • Ukur jarak inter P1 pada model (MPV):

              Yaitu mengukur jarak dari fossa distal pada permukaan oklusal P1 kanan RA ke fossa distal P1 kiri RA

          • Ukur Indeks P (Jarak Inter P seharusnya

            Jarak P1-P1=SI x100/80

          • Hitung selisih

            jarak inter P1 sebenarnya - jarak inter P seharusnya

      • Indeks Molar

        SIx100/ Jarak M1-M1=64

        Jarak M1-M1=SIx100/64

        • CARA PENGUKURAN
          • JARAK INTER M1. SEBENARNYA:

            • Ukur jarak interM1 pada model (MPV):

              Yaitu mengukur jarak dari fossa mesial pada permukaan oklusal M1 kanan RA ke fossa mesial M1 kiri RA

          • Ukur Indeks M (Jarak Inter M seharusnya

            Jarak M1-M1=SI x100/64

          • Hitung selisih

            jarak inter M1 sebenarnya - jarak inter M seharusnya

    • Pengukuran lebar lengkung gigi pada analisis Pont. Patokan yang digunakan:

      • MPV/ measured premolar value

        fossa distal pada permukaan oklusal P1 kanan RA ke fossa distal P1. kiri RA

      • MMV/ measured molar value

        fossa mesial pada permukaan oklusal M1 kanan RA ke fossa mesial M1. kiri RA

      Untitled

    • Menghitung selisih

      Jika hasilnya (-): terjadi kontraksi Jika hasilnya (+): terjadi distraksi|

      • Derajat kontraksi/distraksi

        Mild degree : hanya 5 mm Medium degree :antara 5-10 mm |Extreem degree : >10mm

      Untitled

  • Diagnostic Setup (metode Kesling)

    teknik untuk menggambarkan bagaimana mengatasi masalah ruang dalam tiga dimensi dengan melepaskan gigi dari tulang basal model dan menempatkannya kembali ke dalam kedudukan yang lebih baik.

    • Cetakan awal tidak digunakan untuk teknik ini, tetapi disimpan untuk model studi.

    • Pemotongan dilakukan hingga batas tulang alveolar→dilakukan pemotongan dalam arah vertikal hingga margin gusi menggunakan gergaji kecil sehingga memungkinkan pemecahan gips tanpa menimbulkan kerusakan di daerah titik kontak antara dua gigi.

    • Selanjutnya gigi diatur menggunakan lilin sesuai dengan posisi yang diinginkan. Untuk menjaga agar gigitan tidak berubah, dibuat gigitan lilin dalam keadaan oklusi sentrik dan pemotongan tidak dilakukan pada seluruh gigi.

    • Perhatikan

      GARIS MEDIAN, OVERBITE, OVERJET, buatlah senormal mungkin.

    • Dari susunan gigi-gigi tsb dapat diketahui ruangannya cukup atau tidak.

      • Bila kekurangan ruang > lebar P1=Indikasi Cabut
      • Bila kekurangan ruang < lebar P1 = Indikasi Non Cabut

      Untitled

      Untitled

  • Perlu diperhatikan

    DALAM ANALISIS RUANG, HAL LAIN YG PENTING DIPERHATIKAN ADALAH CURVE OF SPEE: JIKA DATAR TIDAK PERPENGARUH PADA ANALISA RUANG, TETAPI BILA ADA GIGITAN DALAM AKAN MEMPENGARUHI PERHITUNGAN

    UNTUK MENDATARKAN 1 MM CURVE OF SPEE KIRA KIRA MEMERLUKAN 1 MM RUANG TAMBAHAN, JIKA LENGKUNG DIBUAT DATAR MULAI DARI M2

ETIOLOGI MALOK.LUSI

  • FAKTOR KETURUNAN/HEREDITER

    Faktor keturunan yang dapat menjadi kemungkinan etiologi misalnya ukuran gigi, panjang dan lebar lengkung, gigi berdesakan dan diastema, overjet. Pengaruh herediter dapat terjadi pada disporpersi ukuran gigi dan lengkung rahang menyebabkan maloklusi berupa gigi berdesakan atau diastema multiple dan disporporsi ukuran, posisi, bentuk rahang menyebabkan relasi rahang tidak harmonis.

  • LETAK BENIH SALAH

    menyebabkan erupsi gigi tidak pada lengkung yang benar. Secara klinis biasanya ditandai adanya rotasi atau versi.

    • Penyebutan letak gigi yang digunakan diantaranya sebagai berikut:
      • Versi : mahkota gigi miring kearah tertentu tetapi akar gigi tidak.
      • Infraoklusi : gigi yang tidak mencapai garis oklusi dibandingkan dengan gigi lain dalam lengkung geligi.
      • Supraoklusi : gigi yang melebihi garis oklusal dibandingkan dengan gigi lain dalam lengkung geligi.
      • Rotasi : gigi berputar pada sumbu panjang gigi, bisa sentris atau eksentris.
      • Transposisi i dua gigi yang bertukar tempat
      • Ektostema : gigi yang terletak diluar lengkung geligi
  • DISHARMONY DENTO MAKSILER (DPM)

    Keadaan disporposi antara besar gigi dan rahang dalam hal ini lengkung gigi. Tanda klinis DDM di regio anterior:

    • Tidak ada diastema psikologis pada fase geligi sulung
    • Saat I1 permanen akan erupsi, gigi meresorpsi 11 sulung dan 12 sulung sehingga I2 tanggal prematur
    • I1 permanen tumbuh dalam posisi normal
    • Pada saat 12 permanen akan erupsi meresorpsi C sulung sehingga C sulung tanggal prematur dan 12 tumbuh dalam letak normal namun C permanen ektostem. Atau 12 tidak meresorpsi C sulung tetapi tumbuh di palatal sedangkan C permanen tumbuh normal.
  • KEBIASAAN BURUK

    Kebiasaan buruk yang dapat menjadi kemungkinan etiologi misalnya menghisap ibu jari, mendorong lidah, menghisap bibir, bernapas melalui mulut, dil. Tulang merupakan jaringan yang responsive terhadap tekanan. Gangguan keseimbangan el ahaA IO dan EO akan menyebabkan maloklusi.

  • KEHILANGAN PREMATUR

    • Fungsi gigi sulung (desidui) adalah untuk pengunyahan, bicara, estetis. Juga yang terutama adalah menyediakan ruang untuk gigi tetap, membantu mempertahankan tinggi oklusal gigi-gigi awan (antagonis), membimbing erupsi gigi tetap dengan proses resopsi.Akibat premature los fungsi tersebut akan terganggu atau hilang sehinggadapat mengkibatkan terjadinya malposisi atau maloklusi.

    Untitled

  • KELAINAN OTOT MULUT

    Kelainan otot mulut yang dapat menjadi kemungkinan etiologi karena tulang merupakan jaringan yang responsive terhadap tekanan. Peranan otot sangat menentukan. Bila terjadi malrelasi RA dan RB fungsi normal otot terganggu. Gangguan keseimbangan tekanan IO dan EO akan menyebabkan maloklusi.

  • KELAINAN JUMLAH GIG!

    Kelainan jumlah gigi yang dapat menjadi kemungkinan etiologi misalnya kelebihan jumlah gigi pada lengkung rahang biasanya dapat menyebabkan berdesakan dan kekurangan jumlah gigi dengan tidak tumbuhnya satu atau lebih elemen gigi secara normal (agenisi). Kelainan jumlah gigi dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lebih sering terjadi di RA dibanding RB

  • KELAINAN PATOLOGIS

    Kelainan patologis yang dapat menjadi kemungkinan etiologi misalnya terdapat torus dan tumor pada rongga mulut.

  • DEFEK KONGENITAL

    Defek kongenital yang dapat menjadi kemungkinan etiologi berhubungan dengan keturunan misalnya oleft palate dan cleft lip. Pada unilateral cleft gigi pada daerah'sisi cleft tersebut biasanya crossbite, gigi RA malposisi, gigi I2 mungkin hilang atau bentuknya tidak normal.

  • LAIN-LAIN:

    • Gigi persistensi

      gigi sulung yang sudah melewati waktu tanggal tetapi tidak tanggal. Keadaan yang jelas menunjukkan gigi persistensi adalah apabila gigi permanen pengganti telah erupsi tetapi gigi sulungnya tidak tanggal.

    • Trauma

      trauma yang mengenai gigi sulung dapat menggeser benih gigi permanen. Bila trauma pada saat mahkota gigi permanen sedang terbentuk dapat terjadi gangguan pembentukan enamel, sedangkan bila mahkota gigi permanen telah terbentuk dapat terjadi dilaserasi (akar gigi mengalami distorsi bentuk/ bengkok)

    • Pengaruh jaringan lunak

      tekanan dari otot bibir, pipi dan lidah memberi pengaruh yang besar terhadap letak gigi. Tekanan yang berlangsung selama & jam dapat mengubah letak gigi. Bibir, pipi dan lidah yang menempel terus pada gigi hampir selama 24 jam dapat angat memengaruhi letak gigi.

DIAGNOSA MALOKLUSI

  • KLASIFIKASI MALOKLUSI MENURUT ANGLE

    • Klas I Angle
      • Relasi M neutroklusi
      • crowding, spacing, rotasi
    • Kelas II Angle
      • Divisi 1
        • Relasi M distoklusi
        • Proklinasi insisiv maksila→ overjet>>
        • Ovebite dalam
        • aktivitas otot abnormal
      • Divisi 2
        • Relasi M distoklusi
        • Insisiv sentral RA berinklinasi ke palatal→ insisiv lateral lebih ke labial daripada insisiv sentral, overbite dalam
    • Klas II Angle
      • Relasi M mesioklusi
  • Klasifikasi Dewey

    Dewey mengusulkan modifikasi maloklusi Angle kelas I menjadi 5 tipe dan maloklusi Angle kelas llI menjadi 35 tipe.

    • Kelas I Angle memiliki 5 tipe modifikasi, yaitu :
      • Tipe 1 : Gigi anterior berjejal
      • Tipe 2 : Gigi anterior Protrusi
      • Tipe 3 : Gigi anterior crossbite
      • Tipe 4: Gigi posterior crossbite
      • Tipe 5 : Mesial drilting gigi posterior
    • Kelas III Angle memiliki3 tipe modifikasi, yaitu :
      • Tipe 1

        lengkung gigi atas dan bawah jika dilihat secara terpisah berada dalam alignment yang normal

        Tetapi jika lengkung gigi dibuat beroklusi pasien menunjukkan alignment

      • Tipe 2

        Insisiyus mandibula berjejal dan berada dalam hubungan lingual terhadap insisivus

      • Tipe 3

        Insisivus maksila berjejal dan dalam posisi crossbite terhadap anterior mandibula

  • Cara menuliskan diagnosa:

    • Maloklusi klas .... disertai... (kondisi maloklusi yang menyertai, ditulis dari kondisi yang paling parah!

    • Contoh:

      Maloklusi klas I disertai protrusi RA, berdesakan RB dan pergeseran garis median RA ke kanan.

  • MACAM PERAWATAN

    • Tanpa pencabutan
    • Pencabutan seri
    • Pencabutan gigi permanen
    • Diskrepansi ruang < 5mm → tanpa pencabutan (tidak termasuk M3)
    • Diskrepansi ruang 5-9mm →diusahakan tanpa pencabutan
    • Diskrepansi ruang > 10 mm → pencabutan (tidak termasuk M3
  • KEBUTUHAN RUANG DIDAPAT DARI : " PENCABUTAN

    • Pencabutan
    • Ekspansi
    • Pengasahan interproksimal
    • Memajukan insisivus
    • Menegakkan molar
    • Kombinasi
  • Rencana Perawatan

    Berisi tahapan-tahapan gang akan dilakukan Saat memulai dan melakukan perawatan ortodonti. Ditulis SESUAI urutan Yang akan dilakukan mulai dari awal sampai akhir perawatan,

    • Contoh:
      • Perawatan pendahuluan
      • Koreksi protrusif RA
      • Koreksi diastema multipel RA dan RB
      • Koreksi pergeseran garis median RB
      • Koreksi gigitan dalam
      • Fase evaluasi
      • Fase retensi

Post a Comment

© Copyright 2019 DENTSIVE: materi dan soal kedokteran gigi

Form WhatsApp

This order requires the WhatsApp application.

Order now